Tom Cruise memang tidak bisa mengulang hari untuk mencegah “Edge of Tomorrow” (2014) mendapat angka debut mengecewakan di Amerika Serikat. Tetapi, dibantu ulasan yang sangat positif, kekuatan bintang Tom ternyata masih bersinar di Asia.
Minggu ini, film adaptasi dari novel “All You Need is Kill” ini harus rela digusur oleh film-film baru seperti “22 Jump Street” dan “How to Train Your Dragon 2”. Sebelum filmnya menghilang dari bioskop, mari kita lihat beberapa fakta menarik di belakang film dengan biaya pembuatan 175 juta dolar Amerika Serikat ini. Berikut adalah sepuluh trivia film “Edge of Tomorrow”:
1. Naskah Tanpa Akhir Cerita
Meski pada akhirnya “Edge of Tomorrow” dinilai sebagai film aksi yang memuaskan, banyak yang sebenarnya kurang suka dengan akhir cerita yang terasa agak dipaksakan. Dalam naskah awal yang ditulis oleh Dante Harper, akhir ceritanya lebih mirip dengan “All You Need is Kill”. Sementara itu, dalam naskah finalnya, akhir ceritanya tidak sesuram kisah aslinya. Tanda bahwa bagian akhir ceritanya memang sudah jadi masalah sejak jauh-jauh hari ternyata bisa dilacak hingga masa sebelum produksinya dimulai.
Ternyata, hanya delapan minggu sebelum syuting dimulai, naskahnya belum punya akhir cerita yang dianggap memuaskan oleh sang sutradara, Doug Liman. Setelah naskah karya Harper dibeli oleh Warner Bros. dengan harga 3 juta dolar AS, Liman membuang dua per tiga dari ceritanya dan membuatnya kembali dari awal dengan mempekerjakan Jez dan John-Henry Butterworth, yang kemudian digantikan oleh Simon Kinberg, dan akhirnya dipoles sampai selesai oleh Christopher McQuarrie.
Ketika syuting akhirnya benar-benar dimulai meski naskahnya belum selesai, Tom Cruise sendiri tidak terlalu pusing karena ia percaya dengan pendekatan Liman yang bisa membangun ceritanya sambil menjalani proses syuting. Meski sempat bersitegang dengan sang sutradara terkait masalah ini, Emily Blunt pun akhirnya mengagumi Liman karena sifatnya yang sangat jujur—sesuatu yang jarang bisa ditemukan pada sutradara Hollywood.
“Dia tidak punya saringan kalau berkata jujur,” kata Emily pada LA Times. “Anda bisa menghabiskan begitu banyak waktu dengan kesopanan dan diplomasi di set. Itulah yang sangat menyegarkan tentang Doug. Ia jujur ketika sedang tidak senang dengan sesuatu dan sangat jujur ketika ia senang dengan sesuatu. Ia cukup percaya diri untuk mencoba apapun, dan membuat ruangan baru untuk setiap momen yang ada dalam filmnya.”
2. Studio Leavesden
Walaupun filmnya hanya mencakup cerita yang terjadi sepanjang dua sampai tiga hari, Liman dan timnya tetap harus membangun 47 set—27 set luar ruangan serta 20 set dalam ruangan. Semua set ini, baik yang berlatar Inggris maupun Perancis, dibuat di studio Leavesden, sepenuhnya memanfaatkan 9 soundstage-nya serta halaman studio yang luasnya 100 hektar. Di luar Leavesden, syuting juga berlangsung di berbagai lokasi di Inggris, seperti di Whitehall, Waterloo Bridge, Trafalgar Square, Hyde Park, Devon, Sussex, Vauxhall, dan tentu saja, bandara Heathrow.
3. Syuting di Trafalgar Square
Dari semua adegan sulit yang dibuat dalam film “Edge of Tomorrow”, yang paling bersejarah untuk Liman dan timnya tentu saja adalah syuting di Trafalgar Square. Sebelumnya, izin untuk mendaratkan helikopter di Trafalgar Square hanya diberikan untuk pihak militer Inggris, serta untuk keperluan darurat. Baru kali ini sebuah produksi film diberikan izin untuk mendaratkan helikopter di lokasi tersebut, yaitu untuk menggambarkan adegan pendaratan helikopter yang mengangkut Mayor Bill Cage (Tom Cruise) menemui Jenderal Brigham (Brendan Gleeson) di awal dan akhir filmnya.
4. Satu Adegan, Banyak Kamera
Dengan premis mirip “Groundhog Day” (1993), para pemeran dalam film ini tentu saja harus mengulangi adegan mereka berkali-kali. Tapi, bagi Doug Liman yang memang terkenal perfeksionis, mengulangi adegan yang sama berulang-ulang tidak cukup baginya. Karena mengulangi hari dan skenario yang sama, Liman ingin agar adegan dalam semua time loop yang tidak melibatkan modifikasi dari karakter Cage, masing-masing menggunakan footage yang diambil di waktu yang sama dengan kamera yang berbeda-beda.
“Contohnya, saya ingin penampilan Bill Paxton [pemeran Master Sergeant Farell] terlihat identik sampai di titik di mana Tom melakukan sesuatu yang berbeda—penampilan yang sama persis, tak hanya kata-katanya saja yang sama. Satu-satunya cara untuk benar-benar melakukan itu adalah dengan memfilmkan seseorang seperti Bill Paxton dengan banyak kamera, tiap-tiap kameranya ditandai untuk bagian-bagian yang berbeda dalam filmnya,” kata Liman dalam wawancaranya dengan Metro. “Kita manusia, kita tidak dapat melakukan penampilan yang identik dua kali berturut-turut. Kita dapat melakukan sesuatu yang hampir mirip, tapi kalau Anda berbicara tentang perangai, semua gestur, semua rambut yang ada di kepala Anda … maksud saya, kalau ada seorang aktor di luar sana yang dapat melakukan sesuatu seperti ini sedekat mungkin, mungkin itu adalah Tom Cruise. Ironinya adalah dia adalah satu-satunya aktor dalam film ini yang tidak perlu melakukan itu.”
5. Bobot ExoSuit
Keinginan Liman untuk menampilkan teknologi militer yang tidak terlalu fantastis dalam “Edge of Tomorrow” ternyata menjadi tantangan besar untuk para kru dan pemerannya. Hal paling sulit yang dirasakan oleh Tom Cruise dan Emily Blunt adalah kenyataan bahwa mereka harus menjalani syuting film aksi dengan mengenakan kostum perang yang dinamakan ExoSuit—armor yang beratnya berkisar antara 40 sampai 56 kilogram.
“Saya datang beberapa bulan sebelum kami memulai produksi dan terlibat dalam R&D untuk ExoSuit ini, hanya rangkanya saja sudah punya berat 27 sampai 45 kilogram, dan tergantung dari persenjatannya, bisa naik sampai 54 sampai 56 kilogram. Ini benar-benar merupakan ujian terhadap kekuatan pikiran atas fisik, sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa Anda kuasai. Tetapi ini berfungsi dengan sempurna untuk karakter Cage,” kata Tom dalam catatan produksi filmnya.
6. Air Mata Emily Blunt
Berbeda dengan Tom Cruise yang sejak awal sudah tahu bahwa ExoSuit-nya berbobot setengah kuintal, Emily Blunt baru tahu seberapa berat kostum tersebut di hari pertama dirinya mencoba mengenakannya. Tom sendiri sengaja tidak memberi tahu Emily karena tidak ingin menyurutkan semangatnya, dan lebih memilih untuk mendampingi sang co-star di hari pertamanya. Walaupun sudah menjalani latihan senam, angkat berat, sprint, dan Krav Maga selama tiga bulan, Emily tetap kaget saat pertama kali mencoba kostum tersebut—lengkap dengan senjatanya—yang beratnya 45 kilogram.
Dalam wawancara di acara The Tonight Show, Tom mengatakan bahwa Emily menangis saat pertama kali mengenakan ExoSuit tersebut. “Saya mempersiapkan diri semampu saya, dan kemudian di hari pertama di mana saya muncul dan mengenakan kostumnya, saya hanya berpikir, ‘Oh Tuhan, sepertinya saya akan menangis,’” kata Emily pada Entertainment Weekly.
7. Hiroshi Sakurazaka
Emily Blunt bukan satu-satunya orang yang stres dengan bobot ExoSuit dalam film ini. Hiroshi Sakurazaka, penulis novel “All You Need is Kill” yang menjadi materi sumber dari film ini, sempat mengunjungi set “Edge of Tomorrow”. Atas saran Tom, Sakurazaka mencoba kostum tersebut, dan komentarnya pun sama seperti banyak orang yang juga merasa kewalahan saat mengenakannya.
“Saya memang tidak punya fisik atau stamina yang cukup untuk memanggul kostumnya di punggung saya,” kata Sakurazaka dalam catatannya. “Saya hampir tidak bisa berjalan saat mengenakannya, apalagi untuk berakting atau untuk melakukan hal-hal lain. Doug Liman menempatkan saya dalam sebuah adegan sebagai pemeran ekstra, dengan mengenakan ExoSuit, dan setelah hanya berdiri di sana untuk sepuluh kali take saya sudah kelelahan!”
8. Desain Mimics
Mereka yang telah membaca novel “All You Need is Kill” tentu mengetahui bahwa para Mimics punya perbedaan desain yang cukup signifikan di filmnya. Untuk mendesain makhluk asing ini, tim VFX bekerja sama dengan Framestore, MPC, serta Sony Imageworks.
Menurut Dan Kramer, VFX supervisor dari Sony Imageworks, ide awal mengenai bentuk Mimics ini diperoleh Doug Liman saat ia melihat sebuah video berjudul “Resonance/Deus Ex Machina” yang menggambarkan sebuah kubus yang tiba-tiba meledak menjadi bentuk-bentuk tak beraturan. “Ini merupakan karakter yang tak berbentuk dan sangat menantang untuk dianimasikan. Beberapa versi pertamanya tidak punya kepala. Idenya adalah bahwa bila makhluk ini berlari, daripada mengubah arah dan berputar, mungkin dia hanya akan membalik tubuhnya dan menyusupkan kepalanya di satu sisi lalu keluar di sisi lainnya. Tidak ada gerakan linear,” kata Kramer mengenai desain awal Mimics.
Karena Liman tidak ingin para Mimics terlihat seperti makhluk organik, maka Sony Imageworks pun mencari bahan-bahan lain, dan akhirnya menjatuhkan pilihan pada obsidian. “Kami membuat segmen-segmen bersiku yang tajam ini dan mewarnai mereka agar terlihat seperti obsidian; kami juga mencampurkan warna kuning ke arah tubuhnya untuk membuatnya terlihat lebih lembut dan tidak terlalu berbahaya. Ujung-ujung dari anggota tubuhnya merupakan senjata yang bisa digunakan untuk menyayat,” tambah Kramer. Karena gerakan Mimics yang sangat cepat mungkin membuat penonton kurang mempercayainya sebagai makhluk yang nyata, tim yang dipimpin Kramer menambahkan efek asap dan pasir untuk membuat gerakannya terlihat realistis saat pertempuran.
9. Ruby Tuesday
Sadar bahwa Liman punya kebiasaan syuting dengan jadwal molor, sang produser, Erwin Stoff, memilih agar mereka syuting di dalam set yang dibuat di studio, bukan di lokasi sewaan. Untuk menciptakan pantai di mana Bill Cage diterjunkan saat Ruby Tuesday, Liman dan timnya membangun set berukuran 200 meter kali 150 meter. Untuk mengisi area tersebut, pasir seberat 1300 ton dikirim ke studio Leavesden untuk menciptakan kontur pantai yang berbukit-bukit dan dilengkapi lubang perlindungan, serta parit seperti dalam perang betulan. Set ini dilatarbelakangi oleh green screen sepanjang 550 meter yang kemudian diisi secara digital dengan pemandangan perang dari darat dan udara.
Adegan peperangan di pantai ini merupakan bagian paling kompleks dari syuting “Edge of Tomorrow”. Tapi, saking totalnya dedikasi oleh pemeran dan kru dalam mengerjakan bagian ini, akhirnya yang membuat mereka benar-benar merampungkan seluruh syuting dengan di set pantai ini ujung-ujungnya adalah faktor eksternal yang tidak bisa ditawar.
“Kami mungkin berada di pantai tersebut selama 35 hari dari total syutingnya, dan hari terakhirnya adalah pas sebelum Natal. Nah, Inggris memang suka hujan, kita semua tahu itu, tapi ketika kami datang ke set tersebut, pantai kami ternyata sudah ditutupi salju. Jeff Silver, line producer kami yang luar biasa, berbalik pada saya dan berkata, ‘Mungkin alam sedang mengatakan pada kita untuk pindah dari pantai dan melanjutkan ini,’” kata Liman.
10. Komposer Kedua
Christophe Beck yang menjadi komposer dalam film “Edge of Tomorrow” sebenarnya bukan pilihan utama untuk mengisi posisi ini. Liman sebelumnya merupakan langganan dari John Powell, komposer yang telah membuat musik latar untuk empat film karyanya: “The Bourne Identity” (2002), “Mr. & Mrs. Smith” (2005), “Jumper” (2008), dan “Fair Game” (2010). Komposer yang selanjutnya direkrut setelah Powell absen dari produksi Liman demi membuat “Rio 2” serta “How to Train Your Dragon 2” adalah Ramin Djawadi. Tetapi, kerjasama antara Liman dan Djawadi akhirnya terputus di tengah jalan. Baru setelah filmnya sudah hampir selesai, Beck dihubungi untuk menggantikan Djawadi.
Beck yang mendapati bahwa bekerja dengan Liman ternyata juga tidak mudah karena sang sutradara masih menyesuaikan diri untuk berkolaborasi dengan komposer selain Powell memahami kepergian Djawadi dari proyek tersebut. “Saya pikir komposer manapun yang masuk dalam situasi tersebut mungkin akan punya nasib yang sama [seperti Djawadi]. Saya sempat berpikir, apabila saya dulunya menjadi komposer yang dipilih lebih dulu, apakah saya akan bertahan sampai prosesnya selesai,” kata Beck pada HitFix. Akhirnya, butuh beberapa bulan bagi Beck sampai akhirnya ia dapat bekerjasama dengan Liman yang terus-menerus mendorongnya untuk mencari cara-cara tidak konvensional untuk mengisi musik latar “Edge of Tomorrow”. Ini jelas tidak mudah, terlebih, seperti yang dikatakan oleh Emily Blunt, Liman tidak pernah menutup-nutupi bila ia punya kritik terhadap seseorang.
“Ketika Anda berada di dalam momen terrsebut dan mendengarnya [kritik] dari dia, kadang-kadang ini bisa membuat hati Anda mencelus, tetapi saya lebih baik bekerja dengan seseorang yang tahu di mana posisi Anda. Ketika ia memberi tahu bahwa ini adalah cue terbaik, atau sama sekali meleset dan ia heran apakah kami berdua menonton film yang sama, ia sama-sama memberitahu berita tersebut dengan terus terang. Ini cukup luar biasa.”
Sumber : https://id.celebrity.yahoo.com/blogs/shinta-setiawan/sepuluh-trivia-film-edge-of-tomorrow-075037034.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar