BAGI warga Tionghoa, nama Vihara Dharma Bakti atau Klenteng Kim Tek Ie mungkin sudah tak asing di telinga. Pasalnya, klenteng yang berada di kawasan Petak Sembilan, Kawasan Kota, Jakarta Barat, itu merupakan klenteng tertua di Jakarta dan menjadi saksi sejarah perkembangan etnis Tionghoa di Indonesia.
Vihara tersebut didirikan pada tahun 1650 oleh seorang kapten Tionghoa bernama Guo Xun Guan (Kwee Hoen). Tujuannya sebagai penghormatan bagi Guan Yin (Dewi Kwan Im). Awalnya, diberi nama Klenteng Guan Yin Ting (Kwan Im Teng).
Klenteng yang terletak di Jalan Kemenangan III, (Petak Sembilan) Glodok, ini sempat hancur-lebur pasca terjadinya tragedi pembantaian Angke yang menewaskan puluhan ribu warga etnis Tionghoa pada 1740. Baru 15 tahun kemudian, seorang warga Tionghoa bernama Oei Tjhie memugar kembali klenteng tersebut dan mengganti namanya menjadi Jin De Yuan (Kim Tek Ie) yang berarti Klenteng Kebajikan Emas.
Jika Anda sempat mengunjungi kelenteng di kawasan Pecinan ini, terutama menjelang perayaan pergantian Tahun Baru Cina atau imlek, sejenak seakan-akan sedang berada di Tanah Leluhur warga Tionghoa. Beragam ornamen khas imlek yang didominasi warna merah dan emas berjejer rapi dijajakan sepanjang jalan menuju klenteng.
"Dari seminggu sebelum imlek sampai hari imleknya, suasana di sini selalu seperti ini mas," ujar Yu Ie, salah seorang pengurus klenteng ketika diwawancarai Plasadana.com untuk Yahoo Indonesia,menceritakan tentang semaraknya ornamen di klenteng tersebut.
Tapi kalau soal kehadiran pengunjung, Yu Ie menjelaskan, tak hanya jelang imlek saja. Pada hari biasa pun klenteng tersebut selalu disesaki orang yang ingin beribadah atau sekadar berkunjung.
"Setiap harinya juga ramai, tapi kalau ada momen-momen khusus lebih ramai lagi," katanya.
Ketika memasuki areal klenteng sekitar 3.000 meter persegi tersebut, kita langsung disambut dengan dua patung singa yang berumur lebih dari dua abad. "Patung singa ini disebut Bao Gu Shi, didatangkan langsung dari Tiongkok tahun 1812," ujar lelaki berumur 38 tahun tersebut.
Uniknya, di klenteng ini terdapat beberapa meja dan altar dengan berbagai dewa dan persembahan yang berlainan. Rupanya klenteng ini tidak diperuntukan untuk satu agama saja.
"Klenteng ini,” lanjut Yu Ie, “merupakan klenteng dari berbagai aliran agama, yaitu Tao, Konghucu, dan Budha.” Dia juga menegaskan, “uniknya, meski berada dalam satu ruangan, berbagai ibadah agama dilakukan bersamaan tanpa saling mengganggu."
Selain disesaki oleh pengunjung yang beribadah, klenteng tersebut juga dipenuhi para pengais rejeki yang datang dari berbagai daerah. Mereka mengemis, berharap sedekah para tetamu yang ingin beribadah. Wanto, pria asal Tangerang, termasuk satu di antaranya.
Pada imlek kali ini, Wanto mengaku sudah empat hari berada di kelenteng. Penghasilannya jangan anggap remeh. Tak perlu susah payah, sehari dia bisa mengantongi Rp50-80 ribu.
"Kalau mau imlek, pengemis disini bisa ratusan orang," ujar Wanto, mengisahkan para pesaingnya yang makin banyak.
Bagi pengelola klenteng seperti Yu Ie, pihaknya tidak bisa melarang pengemis-pengemis tersebut berada di areal rumah ibadah tersebut. Hanya, sebagai antisipasi pengamanan, pengelola sudah berkoordinasi dengan aparat keamanan.
"Selain Satpol PP (Pamong Praja), untuk kelancaran pengunjung yang hendak beribadah, kita juga koordinasi dengan aparat keamanan seperti TNI dan Polri," ujar Yu Ie. (Rachmat Muslim)
SUMBER : http://id.berita.yahoo.com/satu-klenteng--beragam-keyakinan-015545193.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar